Timbunan Sampah Setinggi 40 Meter, GUBERNUR ANIES Tinjau Optimalisasi TPST Bantargebang

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau pelaksanaan Kegiatan Strategis Daerah (KSD) Optimalisasi TPST Bantargebang. Tujuan optimalisasi adalah mewujudkan pengolahan sampah yang ramah lingkungan dan sosial secara maksimal.

Anies menjelaskan bahwa program KSD adalah kegiatan yang disusun sebagai pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dalam memenuhi kebutuhan dasar, mempercepat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“TPST Bantargebang harus dapat mengelola sampah DKI Jakarta dengan konsep ramah lingkungan dan ramah sosial,” kata Anies didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Isnawa Adji, Selasa (15/1).

Anies memaparkan bahwa TPST Bantargebang telah beroperasi sejak tahun 1989 dan jumlah sampah yang diterima meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2018, rata-rata jumlah sampah yang masuk ke TPST Bantargebang mencapai lebih dari 7.400 ton per hari. Ketinggian timbunan sampah saat ini bervariasi dari 20 sampai 40 meter.

Menurut Anies kapasitas TPST Bantargebang saat ini berada pada kondisi kritis. Diprediksi kapasitas TPST Bantargebang akan penuh pada tahun 2021. Oleh karena itu dibutuhkan terobosan berupa kegiatan pengurangan timbunan sampah pada zona serta perapihan zona. “Selain itu, perlu dilakukan penambahan sarana dan prasarana,” katanya.

Baca Juga:  Ombudsman Kritik Kebijakan Gubernur Anies, PROYEK PELEBARAN TROTOAR Guna Tampung PKL Langgar UU

Isnawa didampingi Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST), Asep Kuswanto, menambahkan pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk menciptakan TPST Bantargebang sebagai TPST Ramah Lingkungan.

“Sejak pengelolaan TPST dilakukan secara swakelola oleh Dinas Lingkungan Hidup pada 19 Juli 2016, pihaknya terus berupaya untuk melakukan perbaikan dan pemeliharaan terhadap semua sarana dan prasarana yang ada.

Berbagai kegiatan yang sudah dilakukan, ungkap Isnawa, di antaranya memelihara kondisi landfill dengan melakukan penutupan menggunakan geomembran dan tanah merah, memelihara jalan operasional, memelihara Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS) dan saluran, melakukan penghijauan, dan mengoperasikan pusat daur ulang kompos. ■ RED/JOKO

Beri Tanggapan