Golput Bisa Menang di Pilpres, PENGAMAT TAMIL Tuding Pemerintah Kurang Sosialisasi

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Pemilihan presiden Indonesia tahun 2019 tinggal beberapa bulan lagi. Beberapa lembaga survei memberitakan bahwa posisi paslon nomor urut 1 Joko Widodo – Maaruf Amin selalu berada diperingkat teratas, walaupun peningkatannya tidak signifikan. Sementara posisi paslon nomor urut 2 Prabowo Subianto – Sandiaga S. Uno terus mengalami kenaikan walau masih berada di bawah rivalnya.

Dalam setiap survei yang dirilis oleh lembaga-lembaga tersebut selalu digambarkan posisi golput berada di kisaran 13 – 18 persen, hal ini mendapat tanggapan pengamat komunikasi, sosial dan politik Tamil Selvan. Direktur TSJ Circle itu mengatakan bahwa hasil survey internal yang dibuat oleh lembaganya menunjukkan angka golput berada di kisaran 20 persen dan berpotensi meningkat.

“Survei yang kami lakukan menunjukkan angka golput berada di 20.4 % dan ini berpotensi meningkat,” ujar pria yang akrab disapa Kang Tamil di Jakarta, Jumat (25/1).

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, namun faktor utamanya adalah masyarakat tidak mendapat informasi yang jelas terkait kedua paslon disebabkan maraknya berita hoax serta turunnya tingkat kepercayaan masyarakat pada media konvensional.

Kang Tamil menilai masyarakat perlu tahu dan diingatkan kembali tentang sejarah politik kedua paslon sebagai landasan penilaian masyarakat, sehingga hari ini menerbitkan 9 fakta sejarah politik kedua paslon berserta sumbernya.

“Masyarakat perlu diingatkan kembali tentang bibit, bebet, dan bobot kedua paslon. Karena saat ini masyarakat merasa seperti membeli kucing dalam karung, mereka tidak tahu jelas siapa calon-calon yang berkompetisi ini, apalagi visi-misinya” ujar alumnus komunikasi politik Universitas Mercu Buana.

Baca Juga:  Ketemu Langsung Calon Pemilih, CALEG AKHMAD MULYADI Yakin Bisa Efektif Mendulang Suara

Tamil merupakan pengamat politik yang sangat konsen dengan dinamika golput dalam demokrasi Indonesia.

Menurutnya ini merupakan efek domino dari kurangnya perhatian pemerintah terhadap pemilih di Indonesia, serta tidak bisanya penyelenggara negara menjaga sikap dan kepercayaan yang diberikan rakyat kepadanya.

“Saya sudah jelaskan sejak lama bahwa dagelan-dagelan politik yang bermuara pada tindak korupsi ini, menurunkan kepercayaan rakyat. Belum lagi regulasi-regulasi yang syarat kepentingan politik seperti calon tunggal di pilkada. Jadi ini efek domino yang sudah sejak lama. Hasilnya saya prediksi pemenang pilpres 2019 adalah golput,” ujar pria yang menyuarakan aksi protes pada pilkada calon tunggal dengan gerakan pilih kotak kosong.

Kang Tamil melanjutkan tingginya golput merupakan sinyal hancurnya sebuah negara dan ini tidak boleh terjadi. Semua pihak harus berkerjasama memberikan informasi yang benar dan jelas kepada masyarakat, sehingga masyarakat merasa pemilihan ini sebagai hal yang penting, dan tidak boleh ada intervensi terselubung terhadap pilihan mereka.

Adapun sembilan fakta tentang kedua paslon ini diramu dari isu-isu yang beredar di lapangan yang selama ini menjadi ambigu dan menjadi bahan propaganda oknum-oknum tertentu.

“Oleh karena itu, kami merasa punya kewajiban untuk menyediakan informasi yang benar dan terpercaya. Kami berharap apa yang kami lakukan ini bisa menjadi suplemen bagi masyarakat dan dapat meningkatkan partisipasi publik sehingga angka golput dapat ditekan,” pungkasnya. ■ RED/JOKO

Beri Tanggapan