Pecundangi Lawan di Final POMNas 2019, ANDIKA ‘Dinasti Gulat’ dari Tanjung Priok

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Andika Sulaeman tampil luar biasa di babak final kejuaraan gulat Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNas) 2019 yang berlangsung di GOR Cempaka Putih Minggu (22/9/2019). Pada babak final yang merupakan puncak pencapaian prestasi, Andika begitu mudah mampu mengalahkan lawanya, Saut Martua Simarmata dari Riau dengan skor 13-4 atau menang mutlak.

Padahal, Saut Martua Simarmata bukanlah pegulat sembarangan. Ia adalah pegulat andalan Riau yang menjadi wakil utama provinsi tersebut pada PON XX tahun 2020 mendatang. Namun kemampuan fisik dan teknik yang prima, membuat lawan seberat apapun di tingkat nasional, bagi Andika, hanyalah hambatan enteng untuk dapat dilewatinya dengan mudah.

Tidak hanya di babak final itu saja Andika menang mudah atas lawannya. Pada babak sebelumnya, juga demikian, bahkan dalam pertandingan tingkat nasional lain Andika membuktikan keperkasaannya, sebagai pegulat terbaik yang punya power di atas matras untuk kelas idelanya 77 kg. Siapapun pasti menghitung seribu kali bila menyebut nama Andika untuk kelas 77 kg itu.

Sewaktu tim pelatda DKI Jakarta berujicoba ke Malang Agustus lalu, pelatih terbaik nasional di Jatim, Fathur Rachman berkali-kali menyebut nama Andika sebagai pegulat terbaik yang sulit ditandingi untuk kelas 77 kg sekarang ini. Padahal, Jatim adalah gudangnya pegulat terbaik dan di tangan dingin pelatih Fathur Rachman semua pegulat Jatim dipoles menjadi yang terbaik untuk dapat mengalahkan siapapun lawannya di tingkat nasional.

Ternyata pada titik itu, Andika masih mampu menumbangkan pegulat Jatim, Kaltim, Jabar, Kalsel, Riau, dan siapapun dia yang hebat di sana. Luar biasa Andika. Tidak hanya pelatih Fathur Rachman saja mengakui Andika hebat.

Hampir semua orang gulat di Indonesia menyebut demikian untuk Andika. Romulus, pelatih yang pernah menangani Andika dari segi fisik, pernah mengatakan, kalau saja semua pegulat berlatih fisiknya sama seperti Andika, semua pasti menjadi juara seperti Andika. Sayang pegulat lain tidak mampu menggenjot fisiknya seperti Andika yang mati-matian berlatih fisik sedemikian rupa.

Andika itu, kata Romulus, naik di tali saja, tak satupun pegulat DKI bisa menyamai kekuatan fisiknya. Sepertis ‘monyet’ cepatnya. Semangat untuk berlatih membentuk fisiknya agar prima, juga tak satupun pegulat bisa menyamainya, dan Itu modal utama Andika, yaitu mau bersusah-susah dalam latihan fisik yang spartan dan keras.

Tidak heran bila Andika Sulaeman kemudian menjadi juara. Dia pantas mendapatkan ‘upah besar’ dari hasil kerja kerasnya dalam latihan dan menjadi juara. Dokter Harun mengatakan, fisik yang prima menjadi sangat menentukan seseorang menjadi juara, kalau hanya teknik saja tidak akan jalan kalau tidak ditunjang oleh fisik yang prima.

Baca Juga:  Bermain Buruk Lawan Juniornya, GM SUSANTO MEGARANTO Raih Hasil Remis Hadapi Azarya Jodi

Dinasti Gulat dari Tanjung Priok

Ada satu fenomena menarik dalam pertandingan gulat ketika Andika naik matras untuk partai final. Fenomena itu ialah, pendukung gulat DKI di final sebagian besar atau mungkin semuanya datang dari Tanjung Priok. Mulai dari nenek-nenek, kakek-kakek, wanita bertubuh tambun besar-besar bersorak dan menyebut nama Andika. Itu semua adalah satu keluarga besar dari pelatih Amirudin dari Tanjung Priok.

Fenomena kedua, dua medali emas dan medali perak DKI di arena gulat POMNas 2019 datang dan dipersembahkan oleh anak-anak Tanjung Priok. Coba kita hitung satu-satu. Andika yang meraih emas adalah anak dari adik perempuan Amirudin bernama Suhana. Sementara medali emas lainnya direbut oleh Muhamad Iarfan Saputra, yang juga adalah pegulat Tanjung Priok binaan Amirudin.

Fenomena ketiga, komunitas gulat di Tanjung Priok bermula dari keluarga Amirudin. Keluarga ini boleh disebut keluarga pegulat. Dari tujuh bersaudara keluarga Amirudin, sebagian besar anak dari putra putri keluarga ini adalah pegulat.

Sebut, misalnya, kakak tertua Amirudin, Abdul Rachman, dia adalah orang tua dari Muhamad Adiktia Rachman), peraih medali perak di arena gulat POMNas 2019 sekarang ini. Berikutnya, kakak nomor dua Amirudin, yakni Siti Sondari. Dia adalah neneknya dari pegulat Iqbal Alamsyah (pegulat PPOP) dan Alfatir Nuriksan (PPOB yang dibina oleh Imron, Saud dan pelatihnya Yolanda).

Berikut, kakak Amirudin nomor tiga, Sukaesih, Wildan Sukmana (anak Wildan Kenzi Choeroundava), dan Dedi Rukmana – pemain pra PON dan PON 2016- (pelatih pelatda) dan pelatih PPLM. Berikut kakak nomor empat Amirudin, Ambari, adalah mantan pegulat tahun PON 1989, anaknya tidak pegulat, tetapi semua ke Voli.

Untuk Amirudin sendiri adalah mantan atlet dan pelatih pelatda, anaknya Andriansyah, atlet pelatda gulat DKI, kemudian Siti Tania Zairah, pegulat, atlet PPOP, Sindi Anzelia, atlet pelatda lapis 2. Berikut, Suhanah, adik Amirudin, adalah ibu dari Andika Sulaeman, atlet pelatda, pegulat Asian games, juara POPNAS 2 kali, dan Andana Ramadan atlet PPOP.

Lalu Saefudin, adik Amirudin, anaknya Haekal Fadilah adalah atlet gulat PPOP, Yang bungsu Aprianto, anaknya Prasetia Maulana, dan Kaena Putra, pegulat binaan Jakarta Utara,
Inilah dinasti gulat dari Tanjung Priok Jakarta Utara. Bukan tidak mungkin kelak juara-juara nasional bakal muncul dari dinasti gulat Tanjung Priok ini.

Sekarang saja sudah kelihatan tajinya, bagaimana sepuluh tahun mendatang. Itulah keluarga Amirudin, dinasti gulat dari Tanjung Priok Jakarta Utara. ■ RED/MIKE WANGGE/GOES

Beri Tanggapan