Anggota Fraksi PDI-P Papua Barat, JIMMY DEMANIUS Menangis Saat Sidang Paripurna 2 MPR RI

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Pemandangan berbeda muncul saat Sidang Paripurna 2 MPR RI, kemarin. Anggota MPR dari Fraksi PDI-P Papua Barat, Jimmy Demanius, pecah tangis manakala menyampaikan pendapatnya. Ia mengkritik kalau jalannya sidang terlalu bertele-tele.

“Terima kasih pimpinan. Kita ini seperti tidak punya sense of crysis, di mana wilayah Papua membutuhkan perhatian dari kita semua,” ucap Jimmy dengan kalimat terbata-bata dan kemudian pecah tangis yang semua disambut hening dalam suasana sidang.

Secara terbuka, Jimmy juga memprotes jalannya rapat yang bertele-tele, terutama di dalam menentukan agenda pemilihan Ketua MPR di tengah berlangsungnya konflik di Papua.

“Yang jelas, saya melihatnya bahwa kita ini sedang memperlihatkan sandiwara yang tidak lucu. Hanya berebut kursi kekuasaan di lembaga ini. Dan, tidak memperlihatkan sense of crysis kita. Ada persoalan kemanusiaan yang luar biasa terjadi di Papua,” ungkap dia.

Karenanya, Jimmy menilai bahwa interupsi demi interupsi yang muncul dalam Sidang Paripurna 2 MPR RI hanya tidak etis lantaran melupakan permasalahan di Papua, seperti khususnya di Wamena yang tengah bergejolak sekarang ini.

Baca Juga:  Rotasi dan Promosi, KAPOLRES SERANG Sertijab Pimpinan Polsek

Menurut dia lagi, sebagian warga Wamena juga mengungsi ke tempat yang aman, akibatkerusuhan tersebut. Untuk itu, Jimmy meminta agar para anggota MPR berhenti saling menginterupsi dalam rapat tersebut. Segera memilih Ketua MPR agar keberadaannya bisa segera dirasakan masyarakat Papua.

“Jadi,kita di lembaga ini, tentu saja untuk bicara bangsa. Kita hanya berebut kekuasaan semata. Sementara orang Papua membutuhkan kehadiran lembaga ini. Kasihan pengungsi-pengungsi. Mereka butuh perhatian kita. Kita pilih secepatnya pimpinan MPR,” imbuh Jimmya yang kemudian diiringi tepuk tangan anggota MPR lainnya.

Pada kesempatan tersebut, harapan Jimmy mendapat persetujuan dan dukungan anggota MPR RI. Setidaknya untuk hadir dalam masalah Papua. ■ RED/RIO/GOES

Beri Tanggapan