Isi Kajian Ta’lim Ba’da Shubuh, USTADZ FITRIAN NABIL L.C Bicara Tentang Kesempurnaan Berpuasa

BEKASI (POSBERITAKOTA) – Menjalani perintah rukun Islam yang ke-3 yakni dengan berpuasa di bulan suci Ramadhan itu sangat kompleks sekali. Bahkan sering muncul banyak pertanyaan dari diri kita, bagaimana menuju kesempurnaan di dalam menjalani kewajiban berpuasa itu sendiri? Untuk mempermudah harus mengacu pada hadist.

Hal tersebut di atas disampaikan Ustadz Fitrian Nabil L.C saat mengisi kajian atau ta’lim ba’da Shubuh dihadapan puluhan jamaah rutin Masjid Jami Al-Ikhlas RW 025 Perumahan Villa Gading Harapan (VGH) Kelurahan Kebalen, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Ahad (11/4/2021) kemarin.

“Dalam perintah berpuasa itu, ada rahasia Allah SWT. Supaya kita tidak merasa dibebankan. Diwajibkan kepada kalian, agar jangan merasa berat. Sedangkan yang hampir atau paling banyak masalah justru dalam soal niat,” paparnya, membuka materi ceramah.

Setelah niat, kata Ustadz Nabil, kemudian disusul dengan ada tata caranya. Hal tersebut tentu saja untuk menuju atau mendapatkan kesempurnaan. Dan, pada akhirnya menjadi punya nilai sebagai ibadah. Jadi, bukan sekadar menahan haus dan lapar saja. Tapi juga harus bisa mengendalikan segala hawa nafsu saja

Menurut Ustadz Nabil lebih jauh bahwa kita memang diperintahkan untuk berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. Bahkan umat di zaman Nabi sebelum Rassulullan/Nabi Muhammad SAW, juga sudah diwajibkan berpuasa.

Rassulullah/Nabi Muhammad SAW malah pernah berpuasa 9 tahun lamanya. Saat itu di tahun 1 sampai 10 Hijriah. Sebelum akhirnya ditetapkan atau hanya diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan,” jelasnya.

Kenapa disebut sangat berat saat ada perintah berpuasa? Karena saat itu, tidak hanya dilarang makan dan minum pada siang hari. Pada waktu malam hari pun, tidak diperbolehkan atau hukumnya haram, jika berhubungan intim meski sudah berstatus suami istri.

“Baru kemudian diturunkanlah ayat yang menghalalkan hal tersebut. Berhubungan intim suami istri di malam hari, diperbolehan atau dihalalkan,” urainya.

Pada bagian lain lagi, Ustadz Nabil juga menyinggung siapa saja (orang) yang diperbolehkan tidak puasa? “Yang sedang sakit, wanita hamil dan ibu menyusui. Namun, puasanya itu harus digadha. Dibayar, setelahnya,” pungkasnya. ■ RED/AGUS SANTOSA

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here