PosBeritaKota.com
Syiar

Goresan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, MAKNA ESOTERIK Al- Alamin – Kajian Semantik (1)

OLEH : PROF DR KH NASARUDDIN UMAR MA

DALAM artikel terdahulu sudah dibahas tentang kosakata al-hamd, distingsi makna Allah, Rabb, Ilah, dan al-Asma’ al-Husna, dalam ayat kedua surah al-Fatihah. Berikut ini akan diuraikan secara komperhensif makna al-‘alamin, penutup ayat kedua surah al-Fatihah (al-hamdulillah Rabb al-‘alamin).

Kata al-‘alamin bentuk jamak dari kata ‘alam, yang berasal dari akar kata ‘alima-ya’lam berarti memberi tanda, mengerti, memahami benar-benar. Dari akar kata ini lahir sejumlah kata seperti ‘alam berarti bendera dan alam. Seakar kata juga dengan kata ‘alim bentuk jamaknya “ulama” berarti ahli ilmu pengetahuan, dan ‘alamah berarti alamat.

Dengan demikian, al-‘alamin bisa berarti tanda-tanda atau alamat, yakni sesuatu yang dengannya kita bisa mengetahui sesuatu (ma yu’lam bihi al-syai’). Kata ‘alam secara populer sering diartikan segala sesuatu selain Allah (kullu ma siwa Allah).

Kata ‘alam dalam arti tanda sama dengan makna ayah yang juga berarti tanda. Kata ‘alam bisa berarti sebuah tanda atau sesuatu yang dengannya Allah akan diketahui. ‘Alam yang biasa disebut alam semesta bisa diartikan sebagai sesuatu yang melahirkan kesadaran dan pengetahuan terhadap Allah SWT.

Dalam perspektif sufistik ditegaskan bahwa alam semesta ini adalah manifestasi keberadaan Allah. Di mana ada alam semesta, di situ ada Dia karena alam semesta ini adalah setiap existent yang ada dalam alam adalah tanda yang menyebabkan kesadaran kepada lokus (madhar) dalam mana la mewujudkan diri. Setiap keberadaan (existent) yang ada dalam alam semesta ini adalah tanda yang menyebabkan kesadaran kepada kita akan sebuah Nama dari Nama-Nama Ilahiah.

Dalam pembahasan terdahulu dijelaskan bahwa nama-nama setiap partikel alam semesta ini pada hakikatnya adalah menginduk kepada nama Sang Mahaagung (Allah_dzu al-Jalalah), karena pada hakikatnya alam ini adalah tajalli-Nya. Inilah yang kita sebut dengan “keesaan nama – nama” (tauhid al-asa’).

Oleh karena ‘alam ini terkait dengan ‘alamah, yakni tanda, alamat, atau identitas Sang Maharealitas.(al-Haqq) maka setiap kali kita bicara tentang alam, setiap itu pula kita bicara dengan Allah SWT. Karena alam semesta ini tak lain adalah realitas al-Haqq itu sendiri.

Dengan kata lain, keseluruhan alam adalah al-Haqq yang memanifestasikan diri-Nya dalam berbagai bentuk (form), baik dalam form universal maupun dalam form particular. Baik yang ada dalam wujud alam nyata (al-alam al-syahadah) maupun dalam wujud alam gaib (al-‘alam al-gaib).

Inilah yang diistilahkan William Chittick dengan “Dia ada di dalam segala sesuatu” (the ‘He’ in all things). Keseluruhan alam ini adalah sang penanda dari Yang Ditandai, dan keseluruhan nama (al- asma) adalah nama dari Yang Dinamai (al-musamma), semuanya manifestasi al-Haqq. Dengan demikian, Allah SWT dan alam semesta ini merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan (imanen).

Berbeda dengan kalangan teolog yang menggambarkan di mana ada sesuatu (alam semesta) di situ tidak ada Allah karena alam semesta adalah makhluk. Alam semesta bagi para teolog jelas adalah “the not He” atau the worlds are everything other than God (alam ialah segala sesuatu selain Allah).

Bagaimana mungkin diterima akal kalau Sang Pencipta (al-Khaliq) menyatu dengan ciptaan (al-makhluq), sementara dipahami Sang Khaliq adalah azali (al-Qadim) dan makhluk adalah baharu (al-hawadits).

Mereka membayangkan Allah subhanahu wata’ala terpisah jauh (transcendent) dengan makhluk-Nya, termasuk alam semesta ini. Perdebatan secara teologis tentang substansi alam akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan mendatang.

Alam menurut Ibn ‘Arabi adalah manifestasi (tajalli) dari Allah subhanahu wata’ala sebagai pemilik wujud mutlah (al-wajib al-wujud). Alam hanya merupakan pancaran dari Sang al-Haqq. Keberadaan alam adalah keberadaan relatif (mumkin al-wujud).

Tanpa al-Haqq tidak mungkin ada alam semesta. Dari sinilah muncul anggapan bahwa teori ketunggalan wujud (al-wahdah al-wujud) sama dengan pandangan Panteism yang pernah digagas oleh Plotinus, walaupun anggapan ini telah dibantah oleh para peneliti karya-karya Ibn ‘Arabi, seperti ‘Afifi, William Chittick, dan Hendri Cobyn. © [***/goes]

Related posts

Buka Ta’lim Maghrib, USTADZ AANG KUNAEFI : Dalam Kehidupan Ini Ada Kewajiban Memelihara Jasadiyyah & Ruhiyyah

Redaksi Posberitakota

Dalam Pengajian Rutin, USTADZ NUR ALI Sentil Peminum Minuman Keras yang Sholatnya Tak Diterima Selama 40 Hari & 40 Malam

Redaksi Posberitakota

Menutup Pesantren Ramadhan, KHOFIFAH Sebut Ikhtiar Bangun Karakter Generasi Bangsa yang Sholih & Sholihah

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang