26.7 C
Jakarta
21 July 2024 - 04:47
PosBeritaKota.com
Syiar

Program ‘Hikmah’ di Masjid Istiqlal Jakarta, REALITAS Kehidupan Zaman Nabi

OLEH : ABU HURAIRAH AND SALAM LC MA

BAGAIMANA kehidupan di masa Nabi yang akan menjadi sumber hukum kita setelah Al-Qur’an. Hadits atau Sunnah itu apa sih? Apapun yang bersumber dengan Nabi, baik ketika beliau berkata qaulan atau ketika beliau bertindak fi’lan atau ketika beliau bersikap diam taqriran. Ketiga hal inilah sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an.

Tentu ada problem, tapi problemnya bukan haditsnya sohih apa tidak? Hal ini tidak usah diperdebatkan karena banyak ahlinya dan sudah banyak dibahas, kesimpulannya ada hadits-hadits yang disepakati kesahihannya danketidak – sahihannya, kita tidak membahas masalah tersebut karena bukan masalah utama, yang jadi masalah utamanya adalah sumbernya itu adalah kehidupan di masa Nabi yang 180 derajat berbeda dengan kehidupan di masa kita.

Sehingga kalau kita mau jadikan sebagai sumber hukum, ada masalah besar disitu. Perbedaan realitas kehidupan, makanannya nabi dengan makanan kita beda, pakaian yang digunakan oleh Nabi dan yang kita gunakan hari ini itu beda, rumah di masa Nabi dengan rumah di masa kita beda, WC-nya beda, kamar mandinya beda, masjidnya beda, pasarnya beda, uangnya beda, kendaraannya beda, mushafnya beda, alam iklimnya beda, bahkan penampilan rambut orang-orang di masa nabi dengan di masa kita itupun berbeda.

Dengan sekian banyak perbedaan itu tantangannya adalah bagaimana kita jadikan kehidupan di masa Nabi sebagai uswatun hasanah kalau ternyata beda semua, tantangannya adalah apa yang ada di masa nabi harusnya kita copy-paste apa adanya di zaman kita?

Atau kita harus mengurai dulu, mana yang itu adalah realitas zaman Nabi, sehingga tidak perlu kita copy-paste dan mana yang merupakan intisari yang menjadi ajaran Islamnya, kecendrungan orang zaman sekarang ketika bicara kembali ke zaman Nabi menjadikan apa yang ada di zaman Nabi sebagai rujukan dalam Islam yang dia lakukan adalah dicopy apa adanya dan dijalankan di zaman sekarang padahal itu beda dan kalau sudah beda itu akhirnya jadi lucu. Ibarat orang potong rambut sebagian dipotong sebagian tidak, (pitak) cara motongnya itu tidak benar berantakan.

Ketika kita bicara mengambil kehidupan di zaman Nabi ke kita karena larut kehidupan Nabi itu dengan agama Islam dan budaya- budaya yang ada di zaman itu bercampur dengan Islamnya, budaya orang Arab, orang Mekkah dan orang Madinah.

Hadits-hadits Nabi di masa Rasulullah SAW itu adalah hadist yang tercampur-campur dengan budaya yang ada di masa itu dipakai, di budaya kita belum tentu semuanya cocok, nah seperti apa contohnya biar jelas.

MAKANAN

Nabi yang sangat kita cintai itu orang Arab makanannya bukan nasi tapi roti kalau kita kan makan pokok dari padi beras kalau roti dari gandum dan khusus orang Madinah ada makanan pokok yang kedua yaitu kurma kadang dia makan roti kadang makan kurma sebagai makanan pokok maksudnya bukan sekedar makanan cemilan, kita di Indonesia makan roti makan kurma juga tapi bukan makanan pokok tapi hanya cemilan.

Dalam hadits dikatakan bahwa Nabi buka puasa pakai kurma itu beliau makan pokok apa cemilan? Makan pokok tentunya, kalau kita buka puasa pakai kurma, itu makanan pokok apa cemilan. Cemilan, beda kan?

Untuk orang Arab, kurma sebagai makanan pokok, pagi sarapan sepiring kurma, siang sepiring lagi dan malam sepiring kurma lagi karena memang makanan pokoknya kurma. Nah ini kan fakta bahwa di masa nabi makanan pokok kurma, pertanyaannya adalah: kita ummat Nabi Muhammad tiap tahun Maulidan teriak cinta Nabi, itu masalah makanan bagaimana urusannya, apa kita harus konversi dari nasi jadi kurma?

Makanan pokok kita juga jadi kurma dengan alasan mencontoh Nabi, bisa apa tidak? Bisa, tapi sehari saja besoknya balik lagi mencari nasi. Artinya disitu ada unsur budaya, yaitu budaya orang Arab. Nah, pertanyaannya adalah apakah budaya orang Arab ini hukumnya wajib untuk kita terapkan?

Ternyata tidak, kan! Kita ambil sedikit yaitu kalau buka puasa kita makan sedikit kurma, tapi nasi dan soto tetap. Orang Arab itu bikin buka puasa pakai kurma bukan sama nasi? Bagaimana dengan roti? Sama juga nasibnya dengan kurma, orang arab itu pagi roti siang roti malam roti berhari – hari roti.

MINUMAN

Nabi paling suka minum susu Onta atau kambing tapi paling banyak susu Kambing karena Kambing melimpah tiap hari diperas susunya. Nah, kita ini orang Indonesia tidak gemar minum susu, kecuali masih bayi..Apalagi minum susu Onta. Rasulullah SAW itu pagi,
siang dan malam susu. Kita tidak terbiasa, apakah kita makhluk terkutuk karena tidak bisa mencontoh Rasululullah SAW?

Ya tidak! Minum susu itu kan budaya kuliner orang Arab. Dengan struktur tubuh orang Arab, perutnya bisa dikasih susu pagi, siang, dan malam setiap hari. Sampai tua. Orang kita bayi saja yang bisa, makin besar orang kita makin tidak doyan. Tubuh kita menolak. Kalau pun ada yang doyan, karena susunya sudah dikasih macam-macam. Seperti stroberri, coklat, vanilla dan ada yang namanya susu. Padahal, bukan susu. Kalau orang Arab tidak doyan susu kental manis, tapi susu original langsung dari hewannya.

PAKAIAN

Tampilan Rasulullah SAW dulu, sebelumnya sudah pernah lihat gambar Yesus tidak? Yesus rambutnya cepak, apa gondrong? Kenapa tidak cepak, kenapa gondrong. Apa tidak ada tukang cukur di masanya? Ada, tapi dia koq laki-laki rambutnya panjang? Semua laki-laki di masa itu rambutnya memang sepanjang itu. Tidak terkecuali Rasulullah SAW.

Rambutnya panjang sebahu dan itu masuk dalam hadits. Masalahnya kita orang Indonesia kalau ada orang rambutnya panjang segitu, para marbot masjid langsung saling lirik ini sandal, sepatu, tromol aman tidak nih, rambut panjang di kita identik dengan preman. Padahal di masa Rasulullah SAW, Nabi dan Sahabat rambutnya panjang – panjang memang itu budayanya.

Nah kalau kita mengaku cinta Nabi kira-kira kita perlu panjangin rambut tidak nih? Tidak juga. Jadi hadits itu kita harus dipahami terlebih dahulu realitanya di zaman Nabi seperti apa, jadi kita tidak harus apa adanya dicopy untuk zaman kita sekarang tapi kita harus pelajari konteksnya seperti apa.

Jadi problem terbesarnya bagaimana memahami realitas kehidupan di masa Nabi. Bagaimana caranya mengimplementasikan di zaman kita sesuai dengan realitas di zaman kita, bagian mananya kita mau ambil, jangan-jangan agamanya kita tidak ambil tapi yang justru budayanya yang kita amalkan, dan memang ini terus terang susah tidak gampang. Makanya banyak mahasiswa kita belajar ke Arab pulang jadi orang Arab tapi tidak bawa agama Islam karena yang ketangkap di otaknya dia budaya Arabnya : jenggot, cingkrang, gamis, sorban, galaknya. Wallahu ‘alam. © [***/goes]

Related posts

Gelar Tabliq Akbar & Santunan Anak Yatim, MASJID BAITURAHIM ANGKASA PURA JAKPUS Hadirkan Ustadz Kasif Heer

Redaksi Posberitakota

Di Masjid Al-Azhar Jaka Permai Kota Bekasi, DR KH ZAKKY MUBARAK MA Khotbah Jum’at Soal ‘Karunia yang Lebih Agung dari Syurga’

Redaksi Posberitakota

Goresan Imam Besar Masjid Istiqlal, ‘HAKEKAT Alam Barzakh’

Redaksi Posberitakota

Leave a Comment

Beranda
Terkini
Trending
Kontak
Tentang