Ekonomi Lesu Tetap Menjamur, HOBI KONTES BURUNG Tak Bisa Diukur Uang

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Di tengah terpuruknya ekonomi nasional, namun tak menyurutkan semangat kicau mania dalam hobinya merawat maupun melombakan bumiumrung kesayangannya. Bahkan arena lomba burung kicau makin menjamur dan selalu ramai pengunjung.

Sebenarnya, apa yang dicari para pelomba, baik di tingkat latihan kelas kampung hingga kontes akbar tingkat nasional?Banyak orang awam bertanya-tanya, kenapa para pelomba tersebut rela menghabiskan waktu, biaya, dan tenaga hanya untuk mengikuti latihan bersama (latber) ataupun latihan prestasi (latpres) tingkat kecil?

“Padahal, nilai hadiah terbesar cuma sepuluh kali dari harga tiket lomba? Sedangkan waktu lomba sangat menyita waktu dari pagi sampai sore. Apa yang dicari sebenarnya?” tanya seorang warga Kemayoran bernama Raharjo di lokasi latpres kawasan Rusun Dakota, Kemayoran, Jakpus, Minggu (2/12).

Dia heran melihat ratusan kicau mania dari berbagai penjuru Jabodetabek tampak antusias mengikuti kontes burung taraf kecil. Di antara mereka ada yang datang mengendarai sepeda motor namun ada pula yang menggunakan mobil dan mengajak beberapa anak buah ataupun teman sesama anggota klub pecinta burung.

“Jauh-jauh datang ke Kemayoran pakai mobil hanya untuk mengikuti lomba berhadiah terbesar Rp 2 juta. Dari mana untungnya,” sambungnya.

Partono, salah satu pengurus komunitas Love Bird Mania Jakarta (LBMJ) menjelaskan sebagian besar peserya lomba lebih banyak bertujuan melampiaskan hobi. “Namanya hobi tidak bisa diukur dengan uang,” jelasnya.

Untuk latber yang digelar rutin empat kali seminggu, harga tiket kontes love bird mulai dari Rp 30 ribu sampai Rp 70 ribu. Hadiah juara satu sekitar sepuluh kali lipat dari tiket,” ujar Partono yang rajin mengikuti latpres di Rusun Dakota maupun di Jl Garuda, Kemayoran.

Sedangkan Rustam Effendi, anggota Klub Murai Batu Indonesia (KMBI) Jakarta Pusat menambahkan untuk kontes jenis love bird didominasi kalangan kicau mania dari akar rumput sampai atas.

“Kalangan akar rumput biasanya ikut lomba untyk kelas baby atau umur di bawah lima bulan. Karena burung muda harganya relatih murah, cuma beberapa ratus ribu rupiah. Kalau dirawat dengan baik dan punya keberuntungan, si burung bisa melejit harganya sampai jutaan rupiah jika sering memenangi lomba,” paparnya.

Sedangkan untuk kelas tertinggi dan paling bergengsi saat ini masih didominasi murai batu. “Murai kelas lomba harga termurahnya sudah mencapai puluhan juta rupiah. Kalau sering merajai lomba, harga melejit tinggi,” uhat Rustam yang pernah menjual murai jawaranya senilai Rp 150 juta. “Jadi, tujuan mereka aktif ikut lomba antara lain melampiaskan hobi, mencari pergaulan, mencari keuntungan dari harga burung jika juara, dan ada pula yang mempromosikan hasil ternaknya agar laris di pasaran,” tambah warga Tanah Abang.

Agus, salah satu panitia lomba, mengatakan jumlah komunitas pecinta urung kicau makin banyak, walaupun kondisi ekonomi lagi lesu.

“Kami gelar latber rata-rata empat kali seminggu dan selalu ramai diikuti ratusan kicau mania. Bahkan tiap hari libur, peserta makin membludak sampai terjual lebih dari 1.500 tiket. Urutan lomba yang paling ramai sebagai berikut: love bird, murai batu, cucak ijo dan disusul kacer. Sedangkan beberapa jenis burung lainnya cenderung sepi,” ungkapnya. ■ RED/JOKO/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here