Karya Terakhir Lagu ‘Ojo Mudik’, DIDI KEMPOT Diduga Meninggal karena Serangan Jantung

NGAWI (POSBERITAKOTA) ■ Maestro atau seniman musik dan lagu Campursari, Dionisius Prasetyo atau yang lebih dikenal dengan nama Didi Kempot (53), kini telah meninggalkan kita untuk selamanya. Dan, kabar tersebut tentu saja tak hanya mengejutkan pihak keluarga, tapi juga bagi jutaan penggemarnya dari seluruh Nusantara.

Sekitar pukul 07.45 WIB bertempat di RS Kasih Ibu Solo, Surakarta, Didi Kempot menghebuskan nafas terakhir. Kuat dugaan, penyanyi yang dikenal bersahaja dan murah senyum tersebut, terkena serangan jantung. Almarhum masuk rumahsakit, karena sempat mengeluh karena kecapean.

Setelah jenazahnya dibawa dari RS ke Ngawi, Jawa Timur, untuk dimakamkan, sejak pagi sudah ditunggu warga masyarakat setempat dan ribuan penggemarnya di rumah duka. Pemakaman keluarga besar telah disiapkan menjadi tempat peristirahatan terakhir.

Lantaran ditengah situasi pandemi virus Corona (Covid-19), pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Ngawi, ikut ambil bagian. Pasalnya, dipastikan bakal banyak dihadiri seluruh keluarga, para pelayat dan fans beratnya. Karena itu pula, diharuskan memakai masker serta ada tes suhu badan yang dilakukan sejumlah petugas.

Tepat pukul 14.15, jenazah Didi Kempot disholatkan di rumah keluarga. Setelah itu, baru akan dibawa ke tempat pemakaman yang tak jauh dari situ. Nampak seluruh keluarga sudah pasrah, terkait kepergian orang (Didi Kempot) yang dicintai.

Sejak tahun 1984, Didi Kempot memulai karir. Bahkan sebagai seniman jalan di Solo. Beberapa karyanya mulai dikenal, antara lain berjudul ‘Stasiun Solo Balapan‘, ‘Sewu Kuto’ dan ‘Pamer Bojo’ serta puluhan hits lain. Termasuk lagu ‘Ambyar‘ dan ‘Ojo Mudik’ yang menyiratkan kebesaran nama serta firasat akan kepergiannya.

Ucapan bela sungkawa dan duka cita, tak cuma dari warga atau masyarakat biasa. Penggemar atau fans setianya pun berjubel, karena ingin ikut mengantar ke tempat pemakaman keluarga di Desa Majasem, Kendal – Ngawi, Jawa Timur. Sosok Didi Kempot juga dikenal sangat bersahaja, apalagi memiliki latar belakang yang cukup sulit saat menginjak Kota Jakarta dulu.

Pada tahun 86-an begitu hijrah ke Jakarta sampai ke tahun 90-an, Didi masih tetap sebagai seniman jalanan. Ia juga memakai nama belakang Kempot yang merupakan akronim daru Kelompok Pengamen Trotoar. Kawasan bunderan Slipi, Jakarta Barat, merupakan tempat tongkrongannya. Adik dari Mamiek Prakoso dan anak dari seniman Srimulat Solo, Ranto Edi Gudel, meninggal dunia dalam kondisi usia 53 tahun. Selamat jalan, Didi Kempot. □ RED/ASSET/AGUS SANTOSA

Beri Tanggapan