Kental Nuansa Komedinya, ‘POCONG MENDUSIN’ Menjawab Minat Penonton pada Film Tema Horor

JAKARTA (POSBERITAKOTA) – Di tahun 80-an hingga 90-an dunia film Indonesia disesaki oleh tema horor. Suzanna menjadi ikon terpenting dari trend horor saat itu. Di awal tahun 2000-an juga masih ada beberapa film bertema horor yang diproduksi, tentu saja dengan interpretasi baru atas bentuk hantu atau setannya.

Pelawak senior Jejen Halimi rupanya berpikir bahwa tema horor sesungguhnya tak pernah luput dari rasa suka masyarakat. Itu sebabnya, ia menerima tawaran untuk main di sebuah film berjudul ‘Pocong Mendusin‘, sebuah film bergenre horor komedi.

“Tema horor menurut saya masih sangat disukai oleh masyarakat, apalagi horor yang diramu dengan komedi,” kata Jejen, mengemukakan alasan terpenting kenapa ia mau membintangi film horor.

Film ‘Pocong Mendusin’ memang kental nuansa komedinya. Itu bisa terlihat dari judulnya. Kata ‘mendusin’ dalam kosa kata Betawi bermakna ‘terbangun dari tidur’. Bayangkan, ada pocong yang baru bangun tidur! Tetapi itulah Betawi, segala hal bisa jadi humor.

Produksi film ‘Pocong Mendusin‘ digarap oleh Sutradara Eki Alkiyah, di bawah produksi Sinema Kita dan Entong 97. Selain Jejen, film ini juga dibintangi oleh Ivan Mini, yang punya postur mirip Daus Mini. Sudah tentu amat kental nuansa humor di film ini. Mengambil lokasi di Kampung Gempol Sari Polindes, Kecamatan Sepatan, Tangerang, film ini siap tayang di channel Bioskop Online.

Optimisme Jejen terhadap masih lakunya film bertema horor tentu saja masih harus dibuktikan secara faktual. Meskipun secara kesaharian masyarakat kita memang dekat dengan hal-hal yang mistik. Setidaknya optimisme itu ia buktikan dengan niatnya kembali membintangi film bertema horor.

“Ya, saya lagi persiapan untuk shooting film horor lagi, judulnya Sawan Bangke,” ujar Jejen. Nah lu, hantu apaan lagi itu?

Tak penting memang soal tema apa yang akan diangkat. Yang justru paling utama adalah semangat para komedian untuk terus survive secara kreativitas. Bukan hanya layar bioskop atau televisi, platform digital semacam YouTube juga bisa jadi alternatif yang lumayan menjanjikan. ■ RED/HANNOENG M. NUR/GOES

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here